PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan saham terhadap lima emiten terkait lonjakan harga kumulatif signifikan. Suspensi mulai berlaku hari ini, Senin (5 Februari). Saham yang terpengaruh adalah PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII), PT Soechi Lines Tbk (SOCI), PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM), PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) beserta seri warannya (HUMI-W), dan PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD).
Endra Febri Styawan selaku Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI mengonfirmasi bahwa suspensi tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari mekanisme perlindungan bagi investor. Menurutnya, tindakan ini berfungsi sebagai periode *cooling down* guna menenangkan dinamika pasar yang sedang meningkat tajam. Langkah suspensi dimaksudkan untuk memberikan waktu yang cukup bagi pelaku pasar agar dapat mengevaluasi keputusan investasi mereka secara lebih matang berdasarkan informasi yang tersedia.
Endra menekankan pentingnya para investor untuk selalu memperhatikan dan memantau keterbukaan informasi yang disampaikan oleh masing-masing perusahaan. Evaluasi matang tersebut diperlukan sebelum mengambil keputusan jual atau beli saham sehingga sesuai dengan kondisi fundamental perusahaan.
Penghentian perdagangan sementara berlaku untuk saham ALII, SOCI, BBRM, HUMI, dan LEAD di pasar reguler maupun pasar tunai. Sedangkan untuk surat berharga berupa waran yaitu seri HUMI-W, suspensi diberlakukan di seluruh pasar perdagangan efek.
Di sisi lain, BEI mengumumkan pembebasan suspensi terhadap saham PT Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS). Keputusan ini mengembalikan kelonggaran dalam aturan perdagangan saham tersebut. Dengan demikian, investor dapat kembali melakukan transaksi saham NSSS di pasar reguler maupun pasar tunai mulai hari ini juga. Pencabutan suspensi untuk NSSS menjadi pengecualian dalam serangkaian penerapan penghentian perdagangan melalui pengumuman hari ini berdasarkan kondisi pergerakan harga masing-masing saham. (*)
Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan keterbukaan berita dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

