Harga emas mencapai posisi tertinggi dalam sepekan pada perdagangan Senin, terdorong kuat oleh permintaan terhadap aset safe haven menyusul serangan Amerika Serikat ke Venezuela. Kenaikan ini juga mendapatkan dukungan dari kekhawatiran geopolitik yang lebih luas serta prospek kebijakan moneter di AS.
Harga emas spot tercatat meroket 2,7 persen ke level USD 4.444,52 per ounce, menyentuh titik tertinggi sejak 29 Desember. Sebelumnya, emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di USD 4.549,71 per ounce pada tanggal 26 Desember. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari juga menguat signifikan, ditutup naik 2,8 persen menjadi USD 4.451,5 per ounce.
Alexander Zumpfe, trader logam mulia di Heraeus Metals Germany, menyoroti dampak langsung peristiwa geopolitik. “Situasi di Venezuela jelas menghidupkan kembali permintaan safe haven, dan itu terjadi di atas kekhawatiran yang sudah ada terkait geopolitik, pasokan energi, serta kebijakan moneter,” jelasnya. Sepanjang tahun 2024, harga emas sudah menunjukkan kinerja kuat dengan lonjakan kumulatif sekitar 64 persen. Penguatan ini terutama ditopang oleh berbagai ketegangan geopolitik global dan siklus pelonggaran suku bunga oleh Federal Reserve AS. Faktor pendorong lainnya adalah ekspektasi penurunan suku bunga yang lebih dalam, pembelian besar-besaran oleh bank sentral berbagai negara, dan arus dana masuk yang kuat ke produk exchange-traded fund (ETF).
Amerika Serikat mengonfirmasi telah melancarkan serangan ke Venezuela dan menggulingkan Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu lalu. Tindakan ini menjadi intervensi militer paling langsung yang dilakukan Washington di Amerika Latin sejak invasi Panama pada tahun 1989. Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan akan ada serangan lanjutan jika Venezuela menentang upaya AS untuk membuka industri minyaknya dan menghentikan perdagangan narkotika. Trump juga secara tidak langsung mengisyaratkan kemungkinan tindakan terhadap Kolombia dan Meksiko terkait masalah aliran narkoba ilegal.
Emas merupakan aset penyimpan nilai tradisional dan kinerjanya cenderung kuat di lingkungan suku bunga rendah karena tidak memberikan bunga atau dividen kepada pemegangnya. Zumpfe menambahkan bahwa prospek emas tetap positif, “Dorongan menuju rekor baru kemungkinan akan terjadi jika ketegangan geopolitik meluas atau jika data ekonomi AS yang masuk memperkuat ekspektasi bahwa The Fed harus memangkas suku bunga lebih agresif dari yang saat ini diperkirakan pasar.” Investor kini memfokuskan perhatian pada rilis data nonfarm payrolls AS untuk Desember yang akan diterbitkan Jumat mendatang, dengan banyak pihak mengharapkan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed tahun ini.
Selain emas, logam mulia lainnya juga menunjukkan performa kuat. Harga perak melonjak 5,2 persen ke USD 76,37 per ounce, setelah tahun lalu mencatat kenaikan fenomenal sekitar 147 persen. Kenaikan perak ditopang oleh statusnya sebagai mineral kritis di AS serta adanya defisit struktural di pasar beriring peningkatan permintaan. Harga platinum spot naik 5,9 persen ke USD 2.269,55 per ounce, sementara palladium menguat 3,4 persen ke USD 1.694,75 per ounce. (*)
Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan keterbukaan berita dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

