Perdagangan saham PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) pada Rabu, 7 Januari 2026, bergerak tenang meskipun ada kabar pembelian saham oleh dua anggota direksi. Saham akhirnya ditutup naik tipis 0,28 persen ke level Rp 1.795 per saham.
Sepanjang sesi perdagangan, pergerakan harga BNGA terbilang sempit. Saham dibuka di Rp 1.795, sempat menyentuh level tertinggi Rp 1.800, lalu turun hingga Rp 1.780 sebelum akhirnya stabil mendekati harga pembukaan. Aktivitas perdagangan tercatat moderat dengan volume sekitar 33.700 lot dan nilai transaksi mencapai Rp 6,1 miliar.
Struktur orderbook memperlihatkan bid relatif merata di kisaran Rp 1.770 sampai Rp 1.795, sementara offer tersusun rapi hingga Rp 1.800 ke atas. Tidak tampak antrean beli yang sangat agresif di satu level tertentu maupun penumpukan jual besar yang mengindikasikan distribusi.
Perhatian pasar lebih tertuju pada aksi dua direktur utama BNGA, Fransiska Oei Lan Siem dan Lee Kai Kwong, yang menambah kepemilikan saham melalui program MRT. Keduanya membeli saham pada harga Rp 1.770 per saham. Meski jumlahnya relatif kecil dibandingkan kapitalisasi pasar dan free float BNGA, aksi ini dinilai memiliki makna simbolik.
Pembelian dilakukan sangat dekat dengan level perdagangan hari ini, mengindikasikan manajemen melihat valuasi di kisaran tersebut masih layak dikoleksi. Namun, pasar merespons secukupnya. Investor tidak serta-merta menafsirkan ini sebagai sinyal perubahan fundamental besar karena transaksi merupakan bagian program remunerasi dan tidak mengubah struktur kepemilikan pengendali. Respons harga yang terbatas lebih berperan sebagai konfirmasi sentimen positif daripada pemicu kenaikan signifikan.
Berdasarkan konsensus analis terkini, harga wajar (fair value) saham BNGA diperkirakan berada di kisaran Rp 2.200 hingga Rp 2.205 per saham. Nilai ini merupakan rata-rata target analis sebesar Rp 2.205, dengan estimasi terendah Rp 1.990 dan tertinggi Rp 2.400. Dibandingkan harga perdagangan terakhir Rp 1.795, BNGA masih diperdagangkan di bawah nilai wajarnya dengan diskon sekitar 22–23 persen. Diskon yang cukup lebar ini menjelaskan mengapa pembelian oleh direksi di sekitar Rp 1.770 dipersepsikan sebagai sinyal bahwa valuasi saat ini dianggap menarik secara internal.
Rentang target yang relatif sempit menunjukkan konsensus analis terhadap BNGA cukup stabil dan realistis, bukan asumsi agresif atau spekulatif. Harga wajar Rp 2.200 mencerminkan ekspektasi kinerja normal di sektor perbankan. Dengan demikian, harga pasar di bawah Rp 1.800 mencerminkan fase konsolidasi dan kehati-hatian pasar, bukan penurunan keyakinan fundamental terhadap kinerja bank. Ruang menuju nilai wajar tetap terbuka secara bertahap selama tidak ada perubahan negatif pada kinerja atau profil risiko bank. (*)
Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan keterbukaan berita dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

