Wall Street mengalami penurunan pada perdagangan Rabu waktu setempat atau Kamis (8/1/2026) WIB, mengakhiri reli rekor selama empat hari berturut-turut. S&P 500 mencatat penurunan pertamanya dalam empat hari, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun cukup signifikan dari rekor tertingginya sehari sebelumnya. Nasdaq Composite masih bertahan di zona positif, meski kenaikannya terbatas.
Tekanan jual paling kuat terasa pada sektor-sektor yang baru-baru ini dikritik Presiden AS Donald Trump melalui media sosial. Sektor perumahan terguncang setelah Trump melempar wacana pembatasan investor institusional besar dalam pembelian rumah tapak, yang bertujuan meningkatkan keterjangkauan kepemilikan rumah bagi masyarakat. Isyarat kebijakan ini dianggap pasar sebagai ancaman bagi permintaan.
Saham-saham pengembang perumahan langsung terdampak: D.R. Horton anjlok 3,6 persen dan PulteGroup turun 3,2 persen. Tekanan menjalar ke sektor keuangan, dengan Blackstone, perusahaan investasi besar di properti, sempat terjun lebih dari 9 persen sebelum ditutup melemah 5,6 persen. Di luar sektor yang disorot Trump, pergerakan pasar relatif lebih tenang. Warner Bros. Discovery naik tipis setelah kembali menolak tawaran akuisisi dari Paramount. Saham Paramount Skydance melemah, sementara Netflix menguat sedikit.
Indeks penutupan perdagangan mencerminkan koreksi: S&P 500 turun 23,89 poin ke level 6.920,93. Dow Jones Industrial Average merosot 466 poin ke 48.996,08. Nasdaq Composite naik 37,10 poin ke 23.584,27.
Pasar minyak juga bergerak turun menyusul pernyataan Trump bahwa Venezuela akan memasok tambahan 30 juta hingga 50 juta barel minyak ke AS. Minyak mentah acuan AS (WTI) turun 2 persen ke USD 55,99 per barel, sedangkan Brent sebagai patokan internasional melemah 1,2 persen ke USD 59,96 per barel. Potensi tambahan pasokan ini memberi tekanan pada harga minyak global, meski realisasinya diragukan karena memerlukan investasi besar untuk memperbaiki infrastruktur Venezuela yang rusak.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury bergerak fluktuatif menyusul rilis data ekonomi campur aduk. Laporan menunjukkan pertumbuhan sektor jasa (ritel dan jasa keuangan) melaju lebih cepat bulan lalu dibanding perkiraan ekonom, namun tekanan inflasi di sektor tersebut mereda ke level terendah sejak Maret. Pelaku usaha sektor tertentu, seperti satu pelaku di sektor pertanian, kehutanan, perikanan, dan perburuan, melaporkan melalui Institute for Supply Management bahwa bisnis berjalan datar, dengan merek terjangkau mencatat permintaan lebih tinggi tetapi merek premium kesulitan mempertahankan pangsa pasar.
Data ketenagakerjaan juga campuran: perusahaan mengurangi jumlah lowongan kerja yang dipasang, menandakan kehati-hatian, namun sektor swasta non-pemerintah menambah sekitar 41.000 lapangan kerja bersih bulan lalu. Laporan resmi Departemen Tenaga Kerja AS yang dijadwalkan Jumat menjadi penentu penting kebijakan bank sentral.
Setelah data ekonomi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,14 persen dari 4,18 persen sebelumnya. Imbal hasil tenor dua tahun relatif stabil di kisaran 3,47 persen. Pasar berharap ekonomi AS cukup kuat hindari resesi namun tidak terlalu panas sehingga memaksa Federal Reserve mempertahankan atau menaikkan suku bunga lebih lama. Peluang pemangkasan suku bunga pada pertemuan Fed akhir bulan ini diperkirakan pasar kurang dari 12 persen, lebih rendah dari hari sebelumnya berdasarkan data CME Group.
Pasar saham global bergerak tidak seragam: London turun 0,7 persen, Hong Kong melemah 0,9 persen, Tokyo jatuh 1,1 persen, sedangkan Seoul menguat 0,6 persen. Pasar global berada dalam fase waspada, menimbang risiko kebijakan dan arah ekonomi serta bank sentral. (*)
Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan keterbukaan berita dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

