Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta agar langkah pemberantasan praktik manipulasi harga saham atau “penggorengan saham” diprioritaskan terlebih dahulu sebelum pemerintah dan otoritas melanjutkan rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurutnya, memperbaiki fondasi dan integritas pasar modal merupakan prasyarat penting sebelum perubahan struktur kepemilikan bursa dilaksanakan.
Purbaya menekankan bahwa tanpa prioritas pada pembersihan praktik manipulasi, agenda transformasi kelembagaan bursa melalui demutualisasi berisiko kehilangan makna substansialnya. Ketika ditanya terkait kemungkinan demutualisasi BEI direalisasikan tahun ini, ia menyatakan belum memiliki kejelasan yang pasti dan menyerahkan seluruh keputusan tersebut sepenuhnya kepada regulator pasar modal, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ia lugas menyampaikan pandangannya, “Saya belum tahu, bisa ditanyakan ke OJK. Kalau pandangan saya sih, beresin dulu ‘tukang goreng-goreng’ itu baru demutualisasi.”
Otoritas Jasa Keuangan bersama PT Bursa Efek Indonesia telah menyatakan sedang melakukan pengkajian rencana demutualisasi bursa. Kajian ini bertujuan untuk memperkuat tata kelola pasar modal, meningkatkan transparansi operasional, serta memperluas perlindungan bagi investor.
Di sisi lain, Purbaya juga mengapresiasi pencapaian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menembus level 9.000. Ia menilai pencapaian ini mencerminkan menguatnya kepercayaan investor terhadap fundamental perekonomian Indonesia. Membaiknya sentimen pasar tersebut, menurutnya, berdampak langsung pada kinerja emiten yang kemudian tercermin dalam kenaikan valuasi saham secara menyeluruh.
Purbaya menambahkan bahwa dalam tiga bulan terakhir, arus dana investor—baik domestik maupun asing—tercatat terus mengalir positif ke pasar modal Indonesia. Tren ini dianggap sebagai tanda konsistensi minat investasi terhadap prospek ekonomi Tanah Air ke depan. Ia menyatakan optimisme dengan menyebutkan, “Kalau kita lihat kan tiga bulan terakhir sudah positif terus flow-nya ke kita. Itu menunjukkan ada perbaikan sentimen investor domestik maupun global terhadap perekonomian Indonesia yang ke depan harus terus dijaga. Kalau begitu, tahun ini IHSG ke 10.000 enggak susah-susah amat.” (*)
Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan keterbukaan berita dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

