PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) kembali menjadi sorotan pelaku pasar menjelang pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Obligasi dan Sukuk Umum (RUPORUPSU). Agenda ini dinilai krusial karena berlangsung di tengah kondisi arus kas perseroan yang masih terbatas, sekaligus menjadi penentu kepercayaan investor dan kreditur terhadap langkah restrukturisasi yang tengah dijalankan emiten konstruksi pelat merah tersebut.
Tekanan arus kas WIKA tak lepas dari perlambatan proyek, tingginya beban utang, serta penyesuaian strategi bisnis pascapandemi. Kondisi tersebut membuat kemampuan likuiditas perseroan menjadi perhatian utama, terutama terkait kewajiban pembayaran bunga dan pokok obligasi. RUPORUPSU pun dipandang sebagai momentum penting untuk memperoleh persetujuan pemegang obligasi atas skema penyesuaian atau restrukturisasi yang diajukan manajemen.
Dalam beberapa periode terakhir, WIKA berupaya memperbaiki kondisi keuangan melalui efisiensi operasional, divestasi aset non-inti, serta fokus pada proyek-proyek dengan perputaran kas yang lebih cepat. Namun, upaya tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu mengangkat posisi kas ke level yang benar-benar aman. Situasi ini membuat keputusan dalam RUPORUPSU memiliki dampak langsung terhadap keberlangsungan arus kas jangka pendek perseroan.
Pelaku pasar menilai, apabila pemegang obligasi menyetujui usulan yang diajukan, WIKA akan memiliki ruang bernapas untuk melanjutkan proses pemulihan kinerja. Sebaliknya, jika hasil rapat tidak sesuai harapan, tekanan terhadap keuangan dan sentimen saham WIKA berpotensi meningkat. Faktor inilah yang membuat RUPORUPSU disebut sebagai “taruhan besar” bagi manajemen.
Dari sisi pasar modal, saham WIKA kerap bergerak fluktuatif seiring munculnya sentimen terkait restrukturisasi dan kesehatan keuangan perusahaan. Investor cenderung bersikap wait and see sambil menunggu kepastian hasil rapat serta kejelasan langkah lanjutan yang akan ditempuh perseroan.
Ke depan, keberhasilan WIKA menjaga keberlanjutan usaha tidak hanya bergantung pada hasil RUPORUPSU, tetapi juga konsistensi implementasi strategi perbaikan arus kas dan manajemen utang. Pasar akan terus mencermati apakah langkah-langkah tersebut mampu mengembalikan kepercayaan dan memperkuat fondasi keuangan perseroan dalam jangka menengah hingga panjang.

