Harga minyak dunia menunjukkan penguatan tipis di tengah ketidakpastian pasokan global dan keputusan OPEC+ untuk mempertahankan kebijakan produksi. Kenaikan harga terjadi meskipun ada kekhawatiran pasar tentang kelebihan pasokan yang menyebabkan penurunan harga minyak lebih dari 18 persen sepanjang tahun 2025.
Data perdagangan terbaru menunjukkan harga minyak mentah berada di level 57,559, naik 0,239 poin atau setara 0,42 persen. Sementara itu, harga Brent diperdagangkan di 61,053, menguat 0,303 poin atau 0,50 persen. Berbeda dengan pergerakan harga minyak, harga batu bara terpantau stabil tanpa perubahan signifikan.
Analis dari Goldman Sachs, Daan Struyven, seperti dikutip Reuters, menyatakan bahwa pasar minyak saat ini dipengaruhi oleh tingkat pasokan global yang relatif kuat. Struyven menambahkan, tekanan geopolitik tetap ada, tetapi fundamental permintaan yang lemah membuat pasar kurang reaktif terhadap isu politik. Pernyataan ini menyoroti prospek produksi minyak di Venezuela dan dampaknya terhadap harga global.
OPEC+ memutuskan untuk mempertahankan output minyak pada level saat ini, meskipun terjadi berbagai tekanan geopolitik dan hubungan internal yang tegang antara beberapa anggotanya, termasuk konflik di Yaman yang melibatkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Keputusan ini diambil di tengah kekhawatiran pasar tentang kelebihan pasokan setelah harga minyak mengalami penurunan tahunan terbesar sejak 2020.
Reuters juga menyoroti bahwa meskipun sejumlah konflik politik, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah dan situasi di Venezuela, masih menjadi sorotan, pasokan global yang kuat terus menahan lonjakan harga minyak dalam jangka pendek. Dalam konteks batu bara, pergerakan harga yang stabil mencerminkan kondisi permintaan energi fosil yang moderat, di mana konsumsi belum menunjukkan lonjakan signifikan di sejumlah negara konsumen utama.
(*)
Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan keterbukaan berita dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

