Harga minyak mentah dunia mengalami pelemahan sepanjang pekan perdagangan terakhir, dengan penurunan sekitar 4 persen dipicu kekhawatiran berlanjutnya kelebihan pasokan (oversupply) di pasar global. Penurunan ini terekam pada penutupan perdagangan Jumat (12/12/2025) yang menunjukkan tren pelemahan pada kontrak berjangka minyak mentah.
Data pasar menunjukkan bahwa harga Brent crude turun tipis menjadi sekitar USD 61,12 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga melemah ke sekitar USD 57,44 per barel pada akhir pekan lalu. Kedua patokan utama ini sama-sama mencatatkan penurunan mingguan lebih dari 4 persen, menandakan tekanan jual yang cukup kuat di tengah kondisi pasokan global yang dianggap masih berlebih.
Analis pasar mencatat bahwa kekhawatiran tentang oversupply menjadi faktor dominan yang menekan harga minyak, bahkan saat ketegangan geopolitik seperti penyitaan kapal tanker di lepas pantai Venezuela sempat muncul. Sentimen optimisme bahwa perang Rusia–Ukraina bisa segera berakhir justru turut meredam kekhawatiran terhadap gangguan pasokan jangka panjang, sehingga menambah tekanan pada harga minyak mentah.
Penurunan harga minyak ini mencerminkan situasi pasar di mana pasokan global masih diperkirakan melebihi permintaan dalam jangka pendek. Menurut laporan internasional, pasar minyak menghadapi risiko surplus pasokan karena produksi beberapa negara utama tetap tinggi sementara permintaan belum pulih secara signifikan, sehingga menciptakan tekanan lanjutan terhadap harga komoditas energi tersebut.
Meski begitu, kondisi pasar ke depan tetap bergantung pada dinamika permintaan global, termasuk pertumbuhan konsumsi energi di berbagai negara dan kebijakan produksi dari kelompok produsen besar seperti OPEC dan sekutunya. Proyeksi permintaan yang lebih kuat atau langkah pengurangan produksi dapat membantu meredam tekanan oversupply dan menstabilkan harga di masa mendatang.
Penurunan harga minyak ini juga berdampak pada sektor energi secara lebih luas, termasuk saham perusahaan minyak dan gas di bursa serta biaya bahan bakar. Para pelaku pasar dan investor disarankan memantau terus perkembangan permintaan energi global serta kebijakan produksi dari negara-negara produsen utama untuk menilai arah harga minyak selanjutnya.

