Harga minyak mentah dunia mengalami penguatan signifikan sekitar satu dolar AS per barel dalam perdagangan terakhir. Kenaikan ini didorong kekhawatiran pelaku pasar mengenai potensi dampak gejolak politik di Venezuela terhadap pasokan minyak global, meskipun terjadi di tengah ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat dan risiko geopolitik yang meluas.
Berdasarkan laporan Reuters, kontrak berjangka minyak Brent ditutup menguat USD 1,01 (1,66%) ke level USD 61,76 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik USD 1 (1,74%) menjadi USD 58,32 per barel. Kedua acuan sempat naik lebih dari satu dolar di tengah hari, setelah sebelumnya mengalami penurunan serupa dalam sesi perdagangan yang bergejolak.
Penguatan harga terjadi seiring respon investor terhadap perkembangan terkini di Venezuela, termasuk penangkapan Juan Guaidó serta pernyataan Pemerintah Amerika Serikat yang mengisyaratkan keinginan mengambil kendali atas negara anggota OPEC tersebut. Situasi ini diperumit oleh embargo ekspor minyak Venezuela oleh AS yang masih berlaku. “Ketidakpastian utama bagi pasar minyak adalah bagaimana aliran minyak dari Venezuela akan berubah akibat langkah-langkah Amerika Serikat,” tulis analis Aegis Hedging dalam catatan mereka.
Meski disebutkan pemerintah Trump tidak berkonsultasi dengan perusahaan-perusahaan minyak besar seperti Exxon Mobil, ConocoPhillips, atau Chevron terkait langkah terhadap Maduro menurut empat eksekutif industri, pertemuan dengan perusahaan tersebut dijadwalkan berlangsung pekan ini. Salah satu eksekutif mengindikasikan bahwa selain Chevron yang sudah beroperasi di sana, perusahaan lain mungkin enggan berkomitmen mengembangkan sumber daya Venezuela.
Produksi minyak Venezuela sendiri telah merosot tajam selama beberapa dekade terakhir akibat salah kelola dan minimnya investasi asing pasca-nasionalisasi industri pada awal 2000-an. Rata-rata produksi minyak negara itu tahun lalu diperkirakan sekitar 1 juta barel per hari, mewakili kira-kira 1% produksi minyak global.
Di sisi lain, Presiden Sementara Venezuela pada Minggu menyatakan kesediaan bekerja sama dengan Amerika Serikat. Simon Wong, manajer portofolio di Gabelli Funds, mengatakan langkah ini berpotensi membuka kembali ekspor minyak Venezuela yang tertahan. “Saya memperkirakan serangan laut dan blokade akan dicabut…sehingga sebagian besar atau seluruh minyak Venezuela bisa kembali masuk pasar,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa peningkatan produksi tetap membutuhkan waktu.
Patut dicatat, sekitar selusin kapal tanker bermuatan minyak mentah dan bahan bakar Venezuela telah meninggalkan perairan negara tersebut sejak awal tahun, tampaknya menentang blokade ekspor AS menurut Reuters dan sumber industri.
Risiko geopolitik kian meningkat dengan ancaman Presiden Trump terhadap Kolombia dan Meksiko terkait narkotika ilegal, serta kemungkinan intervensi terkait Iran. Simon Lack, manajer portofolio Catalyst Energy Infrastructure Fund, menggarisbawahi meningkatnya risiko ini meski peluang perubahan rezim di Kolombia atau Iran masih dinilai rendah. Sementara itu, OPEC+ memutuskan mempertahankan tingkat produksi saat ini pada pertemuan Minggu sebagai faktor penyeimbang lainnya. (*)
Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan keterbukaan berita dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

