📊 Market Update – Bursa Efek Indonesia

Harga Tembaga Cetak Rekor, Implikasi ke Pasar

Harga Tembaga Cetak Rekor, Implikasi ke Pasar

Harga tembaga mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, mencerminkan perubahan signifikan dalam dinamika pasar logam global. Kenaikan ini memicu evaluasi ulang keseimbangan pasokan dan permintaan, terutama menyusul meningkatnya kebutuhan mineral kritis untuk sektor energi, teknologi, dan industri berbasis elektrifikasi. Permintaan kuat dari pusat data kecerdasan buatan dan kendaraan listrik telah mendorong kenaikan harga tembaga sekitar 40 persen sepanjang tahun lalu.

Analis SP Angel John Meyer menyatakan harga tembaga masih perlu naik lebih jauh untuk mendorong peningkatan produksi signifikan oleh perusahaan tambang. Banyak tambang telah lama beroperasi pada atau melebihi kapasitas desain awal, meningkatkan risiko kegagalan besar seperti insiden longsoran lumpur di tambang Grasberg, Indonesia. Meski Venezuela bukan produsen utama tembaga rafinasi, langkah Presiden AS Donald Trump mengambil kendali sementara negara tersebut setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro turut menyoroti risiko keamanan pasokan mineral kritis secara global.

Advertisement
Advertisement

Duncan Hobbs, Research Director Concord Resources, menegaskan reli logam seperti tembaga dipicu oleh isu mineral kritis dan keamanan rantai pasok dalam tatanan dunia baru. Gangguan produksi di beberapa tambang memperkuat potensi kekurangan pasokan, termasuk kecelakaan di tambang Grasberg milik Freeport-McMoRan pada September lalu dan aksi mogok di tambang Capstone Copper di Chile utara. Analis Citi memperkirakan pasar tembaga rafinasi global tahun ini akan mengalami defisit sekitar 308.000 ton dari total produksi 26,9 juta ton.

Investasi besar pengembangan tambang baru diperlukan untuk memenuhi lonjakan permintaan masa depan, tetapi menurut Meyer, proyek tersebut sulit terwujud tanpa harga lebih tinggi dengan perkiraan harga impas di atas USD13.000 per ton. Kekhawatiran pasar juga muncul dari potensi tarif impor AS terhadap tembaga, yang telah menarik arus logam besar-besaran ke Amerika Serikat dari gudang London Metal Exchange. Meskipun tarif masih ditinjau dan sempat dikecualikan dari bea masuk per Agustus lalu, persediaan tembaga di gudang Comex AS tercatat 453.450 metrik ton per 2 Januari, melonjak 400 persen sejak April.

Analis Macquarie Alice Fox memperkirakan tambahan 360.000 ton tembaga disimpan di luar bursa di AS, menyatakan fundamental pasar belum sepenuhnya mendukung level harga tinggi ini. Fox mengindikasikan pasar global berada dalam surplus melebihi 500.000 ton pada tahun lalu, bertolak belakang dengan proyeksi defisit yang diyakini pelaku pasar. (*)

Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan keterbukaan berita dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *