Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan pada Selasa, 10 Februari 2026, dengan penguatan signifikan, mencapai level 8.131,74. Kenaikan sebesar 99,86 poin atau 1,24 persen dari posisi sebelumnya ini menandakan adanya perbaikan sentimen investor di pasar saham domestik. Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak cukup fluktuatif, dengan rentang pergerakan antara 8.011,13 hingga 8.140,86, setelah dibuka pada level 8.031,58. Meski indeks menguat secara keseluruhan, tekanan jual masih terlihat pada sejumlah saham tertentu, terutama saham-saham yang sebelumnya telah mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari tersebut terpantau cukup ramai dan menunjukkan minat investor yang kuat. Total volume transaksi di seluruh pasar tercatat mencapai 453,04 juta lot, dengan nilai transaksi sebesar Rp19,95 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 2,44 juta kali. Khusus di pasar reguler, volume transaksi mencapai 395,96 juta lot, dengan nilai transaksi Rp18,58 triliun dan frekuensi 2,44 juta kali. Tingginya nilai transaksi ini mencerminkan masih kuatnya keinginan investor untuk bertransaksi, seiring dengan pergerakan IHSG yang kembali menunjukkan tren penguatan.
Di tengah euforia penguatan IHSG, sejumlah saham justru harus menutup perdagangan di zona merah dan masuk dalam jajaran 10 saham peringkat terbawah berdasarkan persentase pelemahan. Salah satunya adalah saham PT Hillcon Tbk dengan kode HILL yang bergerak di sektor infrastruktur dan konstruksi, ditutup melemah 2 poin ke level 112. Pelemahan sebesar 1,75 persen ini mencerminkan aksi ambil untung investor setelah pergerakan harga saham yang volatil dalam beberapa waktu terakhir. Sementara itu, saham PT Kedaung Indah Can Tbk (KICI) dari sektor barang konsumen non-primer juga ditutup melemah 4 poin ke level 226, atau turun 1,74 persen. Pelemahan KICI terjadi di tengah minimnya sentimen positif jangka pendek dari sektor manufaktur peralatan rumah tangga, di mana investor cenderung bersikap selektif terhadap saham-saham berkapitalisasi kecil.
Dari sektor industri pengolahan, saham PT Manggung Polahraya Tbk (MANG) ditutup turun 1 poin ke level 57, terkoreksi 1,72 persen. Pergerakan saham ini mencerminkan masih terbatasnya minat investor pada saham-saham lapis tiga, meskipun IHSG menunjukkan penguatan yang signifikan. Sektor properti juga tidak luput dari koreksi, dengan saham PT Duta Anggada Realty Tbk (DART) yang menutup perdagangan dengan penurunan 3 poin ke level 173, atau turun 1,70 persen. Tekanan pada saham properti ini masih dipengaruhi oleh kehati-hatian investor terhadap prospek permintaan properti komersial serta dinamika suku bunga yang berpotensi mempengaruhi sektor ini.
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dari sektor teknologi dan ekonomi digital juga menutup perdagangan di zona merah, turun 1 poin ke level 59, dengan penurunan tercatat 1,67 persen. Tekanan pada saham teknologi ini masih mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek profitabilitas dan persaingan ketat di industri digital. Dari sektor industri dasar, saham PT Trias Sentosa Tbk (TRST) yang bergerak di industri kemasan plastik ditutup melemah 8 poin ke level 476, terkoreksi 1,65 persen. Pelemahan ini terjadi seiring kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan biaya bahan baku yang dapat menekan margin laba perusahaan.
Sektor tekstil dan produk tekstil juga menunjukkan tekanan, dengan saham PT Falmaco Nonwoven Industri Tbk (FLMC) ditutup turun 2 poin ke level 128, atau 1,54 persen. Tekanan pada saham FLMC ini masih dipengaruhi oleh tantangan permintaan global dan ketatnya persaingan di pasar. Selanjutnya, saham PT Jembo Cable Company Tbk (JECC) di sektor industri kabel listrik ditutup melemah 15 poin ke level 985, mencatat penurunan 1,50 persen. Aksi ambil untung investor setelah penguatan sebelumnya turut menekan pergerakan saham ini, di mana pelaku pasar juga masih menanti kepastian realisasi proyek infrastruktur. Dari sektor perdagangan dan distribusi bahan bangunan, saham PT Trimitra Prawara Goldland Tbk (ATAP) ditutup turun 10 poin ke level 670, atau 1,47 persen, mencerminkan kehati-hatian investor terhadap prospek sektor properti dan konstruksi yang masih menghadapi tantangan permintaan.
Penurunan juga dialami oleh saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dari sektor agribisnis dan pangan, yang menutup perdagangan dengan penurunan 80 poin ke level 4.450, terkoreksi 1,77 persen. Tekanan pada saham CPIN terjadi di tengah sentimen fluktuasi harga bahan baku pakan ternak dan dinamika permintaan produk unggas yang masih dipengaruhi kondisi daya beli masyarakat. Secara keseluruhan, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan menunjukkan penguatan pada penutupan perdagangan hari ini yang mengindikasikan perbaikan sentimen pasar, tekanan pada sejumlah saham peringkat terbawah menegaskan bahwa pergerakan pasar masih belum merata. Investor cenderung lebih selektif dalam memilih saham, dengan fokus pada emiten-emiten yang dinilai memiliki fundamental kuat dan prospek kinerja yang lebih stabil di tengah dinamika sentimen global dan domestik yang terus berkembang. (*)
Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan keterbukaan berita dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

