📊 Market Update – Bursa Efek Indonesia

Komisaris Dharma Polimetal (DRMA) Jual Saham

Komisaris Dharma Polimetal (DRMA) Jual Saham

Anggota Dewan Komisaris PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA), Noel Aelyo Laras Kusuma Negara, terpantau telah melakukan penjualan saham DRMA dengan tujuan divestasi. Transaksi ini berlangsung dalam dua kesempatan terpisah pada 10 dan 11 Februari 2026, yang rinciannya tercantum dalam keterbukaan informasi. Selain itu, emiten komponen otomotif ini juga tengah menyoroti perkembangan teknologi baterai kendaraan, khususnya potensi penggunaan aki berbasis ion natrium di Indonesia, sebagai alternatif yang lebih terjangkau.

Dalam rincian transaksi, Noel Aelyo Laras Kusuma Negara tercatat menjual total 300 ribu lembar saham DRMA. Pada 10 Februari 2026, Noel melepas 200 ribu saham secara tidak langsung dengan harga Rp1.030 per saham. Sehari setelahnya, pada 11 Februari 2026, ia kembali melakukan penjualan tidak langsung sebanyak 100 ribu saham dengan harga Rp1.025 per saham. Akibat dari divestasi ini, jumlah kepemilikan saham Noel di DRMA mengalami penurunan dari sebelumnya 71.849.300 lembar saham atau setara 1,53 persen hak suara, menjadi 71.549.300 saham atau 1,52 persen hak suara. Meskipun Noel merupakan pihak pengendali, laporan tersebut juga mencantumkan pernyataan bahwa ia tidak akan mempertahankan pengendalian.

Advertisement
Advertisement

Pergerakan saham DRMA menunjukkan dinamika yang beragam sepanjang awal tahun 2026. Meskipun dalam jangka pendek saham emiten otomotif ini mengalami tekanan, tren penguatan masih terlihat dalam rentang waktu yang lebih panjang. Secara *year to date* (YTD), saham DRMA membukukan koreksi sebesar 1,90 persen, mencerminkan fase konsolidasi harga setelah reli signifikan sebelumnya. Tekanan ini bahkan lebih dalam dalam satu bulan terakhir, dengan pelemahan sebesar 2,36 persen. Namun, dalam periode mingguan, saham DRMA mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan kenaikan 1,97 persen, sementara dalam tiga bulan terakhir, saham ini masih mencatatkan penguatan tipis sebesar 1,47 persen. Momentum penguatan yang lebih solid terlihat dalam jangka menengah, di mana selama enam bulan terakhir DRMA berhasil mengapresiasi harga sebesar 6,70 persen. Kinerja impresif terus berlanjut dalam satu tahun terakhir dengan penguatan 11,89 persen, bahkan melonjak sekitar 73,95 persen dalam tiga tahun terakhir.

Di sisi lain, PT Dharma Polimetal Tbk juga menyuarakan pandangannya terkait potensi pemanfaatan aki berbasis ion natrium di Indonesia. Aki ion natrium dianggap bisa menjadi alternatif yang lebih ekonomis untuk komponen penyimpanan energi listrik, termasuk di sektor otomotif. Saat ini, DRMA telah memiliki produk aki berbasis lithium, khususnya *Lithium Ferro Phosphate* (LFP), yang dikenal unggul dalam bobot ringan dan masa pemakaian lebih panjang dibanding aki konvensional.

Head of Business Development PT Dharma Polimetal Tbk, Eko Maryanto, menjelaskan bahwa teknologi aki atau baterai kendaraan terus berkembang pesat, termasuk kemunculan ion natrium seperti yang terlihat di Tiongkok. Meskipun demikian, Eko menegaskan bahwa kondisi saat ini menunjukkan penyimpanan energi paling efisien masih pada teknologi LFP. Menurutnya, baterai LFP yang telah dipasarkan oleh DRMA lebih fleksibel dari segi bobot dan volume dibandingkan ion natrium saat ini, sehingga tidak memakan ruang besar ketika dipasang di kendaraan. Ia menambahkan bahwa baterai ion natrium, karena kepadatan energinya yang lebih rendah, bisa memiliki ukuran dua hingga tiga kali lebih besar dari ukuran LFP.

DRMA menyatakan akan terus mengikuti perkembangan teknologi baterai baik berbasis lithium maupun natrium. Eko memprediksi bahwa di masa depan, ion natrium kemungkinan akan digunakan untuk mobil listrik dengan harga lebih terjangkau di pasaran. Ia juga menyebut pengembangan lithium ke arah *Lithium Manganese Ferro Phosphate* (LMPF) yang memiliki kepadatan energi lebih tinggi, namun saat ini harganya masih mahal. Oleh karena itu, DRMA memutuskan untuk lebih terfokus pada produk baterai LFP karena dinilai lebih relevan dan diserap oleh pasar otomotif massal. Hal ini terlihat dari berbagai model mobil listrik yang beredar di pasaran saat ini, seperti BYD, Wuling, dan Chery, yang mayoritas mengusung baterai jenis LFP. DRMA berencana untuk fokus pada LFP terlebih dahulu, dan berikutnya akan melihat pengembangan ion natrium. Meskipun bahan baku baterai ion natrium diklaim lebih murah dan melimpah dibanding lithium, tantangan masih ada dalam proses produksinya. Eko Maryanto menyoroti bahwa harga grafit sebagai material anoda masih mahal. Meskipun natriumnya murah dan banyak ditemukan di air laut, grafit untuk anodanya masih menjadi hambatan. Ini berarti secara teknologi, ion natrium memerlukan waktu untuk mencapai skala ekonomi yang optimal. (*)

Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan keterbukaan berita dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *