📊 Market Update – Bursa Efek Indonesia

Obligasi Konversi Jatuh Tempo 2026 Pengaruhi Volatilitas Saham ATIC Dilirik Ritel

Obligasi Konversi Jatuh Tempo 2026 Pengaruhi Volatilitas Saham ATIC Dilirik Ritel

Perhatian investor ritel kembali tertuju pada saham PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) menyusul meningkatnya volatilitas harganya. Sentimen utama masih berkisar pada obligasi konversi perusahaan senilai Rp560 miliar yang jatuh tempo pada 11 Juli 2026.

Menurut praktisi investasi Mikirduit, Surya Rianto, struktur obligasi konversi ini memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan harga saham ATIC. Obligasi tersebut berbunga 5% per tahun dan telah mengalami beberapa kali perpanjangan tenor, terakhir hingga Juli 2026. Kondisi kritisnya, harga saham ATIC per awal Januari 2026 masih berada di kisaran Rp670. Angka ini jauh di bawah harga konversi obligasi yang ditetapkan sebesar Rp1.400 per saham.

Advertisement
Advertisement

Surya menjelaskan bahwa perusahaan memiliki tiga opsi menyelesaikan obligasi ini: konversi menjadi saham, pelunasan langsung, atau perpanjangan tenor lagi beserta bunga. Secara historis, ATIC selalu memilih opsi ketiga pada setiap periode jatuh tempo sebelumnya. Kesempatan berikutnya untuk melihat keputusan perusahaan adalah pada Juli 2026 nanti.

Secara teknikal, pergerakan harga ATIC menunjukkan pola konsolidasi dalam kisaran sempit Rp660-Rp680, menunjukkan pasar menanti katalis baru. Meskipun harga masih bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 dan 100 hari, kemiringannya landai menandakan penguatan belum didukung momentum kuat. Indikator Bollinger Band yang menyempit juga mengindikasikan fase penantian arah baru. Indikator MACD menunjukkan momentum beli dan jual dalam kondisi seimbang seiring pergerakan sideways. Psikologi pasar menunjukkan zona support di Rp650-Rp660 dan hambatan di sekitar Rp700.

Surya mengingatkan adanya jarak besar antara harga pasar sekarang (Rp670) dan harga konversi (Rp1.400). Perbedaan besar ini seringkali memicu spekulasi khususnya ketika mendekati jatuh tempo. Ia mengajak untuk belajar dari sejarah: pada tahun 2021, ketika obligasi akan jatuh tempo, harga ATIC sempat melonjak hingga Rp2.260. Namun, alih-alih terjadi konversi, perusahaan kembali memperpanjang tenor obligasi tersebut.

Dari sisi valuasi, saham ATIC memiliki Price to Earnings TTM sebesar 6,61 dan Price to Book Value sebesar 2,82. Meskipun PER tergolong rendah, hal ini belum tentu menandakan saham murah karena labanya fluktuatif dan sangat bergantung pada siklus proyek. Analisis orderbook menunjukkan adanya akumulasi selektif namun belum terlihat dorongan kuat.

Surya menegaskan, pendekatan pada ATIC saat ini harus berbasis teknis struktur obligasi konversinya, bukan pada fundamental jangka panjang atau prospek bisnis perusahaan. Karakteristik obligasi konversilah yang kerap mendorong harga saham mengalami kenaikan periodik sebelum akhirnya konsolidasi.

Dengan karakteristik ini, Surya menekankan risiko investasi yang tinggi. Risiko terbesar adalah dimungkinkannya kembali terjadi perpanjangan tenor obligasi yang dapat mengubah ekspektasi pasar secara drastis. Ia mewanti-wanti investor ritel untuk berhati-hati: “Risiko tinggi, atur lokasi, jangan terlalu besar, dan masuk bertahap.” Keputuhan bentuk artikel jadi kunci memahami pergerakan ATIC menjelang Juli 2026. Volatilitas tinggi diperkirakan tetap dominan sebagai respon atas dinamika obligasi konversi dan keputusan perusahaan. (*)

Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan keterbukaan berita dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *