Reli saham logistik belakangan menjadi sorotan di pasar modal Indonesia, namun pergerakan harganya sering kali tidak selaras dengan headline kinerja keuangan. Emiten seperti Samudera Indonesia (SMDR), Berlian Laju Tanker (BLTA), dan Trimitra Trans Persada (BLOG) memperlihatkan pergerakan yang dinamis di tengah indeks yang sensitif.
Menurut Ngurah Warman dari Pintar Saham, bisnis logistik memiliki karakter berbeda dengan sektor konsumer. Bisnis ini sangat tergantung pada kontrak besar, volume yang stabil, rute jelas, dan utilisasi aset yang tinggi. Inilah yang menyebabkan respons pasar kerap tidak terkait langsung dengan kabar “orderan ramai” atau kenaikan laba. Struktur ketergantungan pada pelanggan jangkar menjadi titik penting sekaligus risiko bagi emiten logistik.
“Makanya pola pelanggan di sektor ini sering terkonsentrasi secara sengaja karena aset seperti truk dan kapal sangat mahal hingga idle time sangat merugikan. Namun konsentrasi ini juga menjadi kelemahan karena memberikan daya tawar besar pada pelanggan untuk menekan tarif, menunda pembayaran, atau bahkan memutus kontrak,” jelas Ngurah.
Risiko tidak hanya berasal dari sisi pendapatan. Ketergantungan juga muncul pada vendor yang menyediakan bahan bakar, perawatan, galangan, maupun asuransi. Konsentrasi biaya pada vendor tertentu, terlebih jika melibatkan pihak berelasi bisa memicu diskon kepercayaan dari investor meski margin operasional terlihat stabil.
Di Bursa Efek Indonesia, emiten logistik terbagi dalam dua model utama. Pertama, kelompok dengan captive market ekstrem di mana pendapatan sangat bergantung pada satu atau dua pelanggan besar. Ada emiten yang bahkan lebih dari 90% pendapatannya berasal dari hanya satu pelanggan. Model ini memberikan stabilitas namun risiko biner jika terjadi gangguan pada kontrak utama.
“Pasar membaca struktur pendapatan terkonsentrasi seperti ini dengan hati-hati karena ruang manuver perusahaan sangat terbatas,” tambah Ngurah.
Kelompok kedua adalah emiten dengan pendapatan lebih tersebar melalui diversifikasi pelanggan. Diversifikasi meningkatkan ketahanan terhadap hilangnya satu kontrak, meski kompleksitas operasionalnya lebih tinggi dan efisiensi mungkin tidak seoptimal model captive market. Ini merupakan trade-off antara stabilitas jangka pendek dan ketahanan jangka panjang.
Pada akhirnya, pergerakan saham logistik yang tampak ‘aneh’ seringkali merupakan cerminan dari penilaian pasar terhadap struktur ketergantungan emiten tersebut. Investor perlu melihat lebih dalam ke struktur kontrak, komposisi pelanggan, dan ketergantungan pada vendor. Ketahanan sebuah perusahaan logistik diuji saat harus menghadapi risiko gangguan kontrak atau ketidakseimbangan daya tawar dalam negosiasi. (*)
Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan keterbukaan berita dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

