PT Matra Tri Abadi, selaku pemegang saham pengendali PT Folago Global Nusantara Tbk dengan kode saham IRSX, kembali menunjukkan agresivitasnya di pasar modal dengan melakukan aksi borong saham dalam dua transaksi besar. Total dana yang dikucurkan untuk akuisisi ini melampaui angka Rp129 miliar, sebuah langkah yang signifikan untuk memperkuat posisi kepemilikan di emiten tersebut. Serangkaian pembelian ini telah meningkatkan porsi kepemilikan PT Matra Tri Abadi menjadi 58,80 persen dari sebelumnya di kisaran 54,88 persen.
Transaksi terbaru tercatat dilakukan pada 12 Februari 2026, di mana PT Matra Tri Abadi membeli sebanyak 113.190.000 lembar saham IRSX. Pembelian ini dilakukan dengan harga pelaksanaan Rp570 per saham, sehingga nilai transaksi pada hari tersebut mencapai sekitar Rp64,51 miliar. Aksi ini merupakan kelanjutan dari pembelian sebelumnya, ketika pengendali mengakumulasi 129.673.000 lembar saham dengan harga Rp500 per saham, setara dengan nilai sekitar Rp64,83 miliar. Jika dijumlahkan, total investasi yang digelontorkan untuk dua transaksi ini menembus lebih dari Rp129 miliar.
Dampak langsung dari akumulasi saham ini terlihat jelas pada struktur kepemilikan perseroan. Sebelum dimulainya transaksi borong saham ini, porsi kepemilikan PT Matra Tri Abadi berada di kisaran 54,88 persen. Setelah transaksi pertama diselesaikan, kepemilikan mereka meningkat menjadi 3.529.673.000 lembar saham, yang merepresentasikan 56,98 persen hak suara. Penguatan ini berlanjut pasca transaksi 12 Februari 2026, di mana total kepemilikan PT Matra Tri Abadi mencapai 3.642.863.000 lembar saham atau setara dengan 58,80 persen hak suara.
Dalam laporan resminya kepada regulator, manajemen PT Matra Tri Abadi menyatakan bahwa tujuan utama dari transaksi ini adalah untuk penambahan kepemilikan saham dengan status kepemilikan langsung. Sebagai pemegang saham pengendali, PT Matra Tri Abadi juga menegaskan komitmennya untuk tetap mempertahankan pengendalian penuh atas perseroan. Langkah ini sering ditafsirkan oleh pelaku pasar sebagai sinyal kuat keyakinan internal terhadap prospek jangka panjang emiten IRSX.
Menilik laporan keuangan dan data pasar terkini, struktur permodalan IRSX mencerminkan karakteristik emiten dengan jumlah saham beredar di publik atau free float yang masih relatif besar. Current share outstanding perseroan tercatat sekitar 3,748 miliar lembar saham. Namun, data menunjukkan bahwa saham yang beredar di publik atau free float masih berada di kisaran 620 juta lembar saham, yang setara dengan sekitar 45,12 persen dari total saham. Dengan harga saham di kisaran Rp610, kapitalisasi pasar IRSX diperkirakan berada pada level triliunan rupiah, menjadikannya menarik bagi investor yang mencari saham dengan potensi pertumbuhan dan volatilitas tinggi.
Sebelum rangkaian aksi borong ini, komposisi pemegang saham IRSX menunjukkan bahwa PT Matra Tri Abadi menguasai sekitar 3,40 miliar lembar saham atau setara 54,883 persen, sementara masyarakat non warkat menguasai sekitar 2,80 miliar lembar saham atau setara 45,117 persen. Dengan tambahan akumulasi yang dilakukan sepanjang Februari 2026, porsi kepemilikan pengendali dipastikan semakin menguat, sementara porsi publik berpotensi menyusut secara bertahap seiring berjalannya transaksi akumulasi di pasar reguler.
Dari sisi pergerakan harga, saham IRSX pada pagi hari ini terpantau menguat ke level Rp610. Dalam sepekan terakhir, saham ini sempat menyentuh level tertinggi Rp655. Sepanjang tahun 2026, pergerakan harga IRSX cukup volatil, dengan level tertinggi mencapai Rp789 dan terendah di Rp486. Dinamika harga ini menempatkan IRSX dalam daftar pantauan banyak pelaku pasar, terutama bagi trader jangka pendek yang memanfaatkan momentum volatilitas, serta investor yang mencermati pergerakan pemegang saham pengendali sebagai indikator sentimen internal.
Aksi agresif pemegang saham pengendali dalam memborong saham seperti ini sering kali diinterpretasikan sebagai sinyal kuat kepercayaan terhadap valuasi saham yang dinilai masih berada di bawah nilai intrinsik sebenarnya. Di sisi lain, peningkatan porsi kepemilikan pengendali juga berdampak pada menyusutnya jumlah saham yang beredar di publik, yang berpotensi memengaruhi likuiditas dan sensitivitas pergerakan harga di pasar. Dengan kepemilikan yang kini mendekati 59 persen, arah kebijakan strategis perseroan akan semakin terkonsentrasi di tangan pengendali, memberikan kontrol yang lebih besar terhadap keputusan-keputusan penting perusahaan. (*)
Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan keterbukaan berita dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

