Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menunjukkan tren penguatan dalam beberapa waktu terakhir, menarik perhatian pasar seiring dengan bergulirnya isu potensi masuk dalam indeks global seperti MSCI. Pergerakan harga yang konsisten naik membuat investor ritel kembali melirik emiten batu bara ini sebagai cerita pemulihan dan peluang investasi.
Pada rentang waktu lima hari terakhir, harga saham BUMI bergerak stabil di kisaran Rp455–Rp470. Posisi tersebut dicapai setelah sebelumnya saham mengalami lonjakan dari area bawah Rp440. Posisi harga terkini masih bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 hari dan 100 hari secara teknikal, menunjukkan tren jangka menengah yang tetap positif meskipun ruang kenaikan mulai dibatasi tekanan jual. Area sekitar Rp460–Rp465 tampak menjadi zona keseimbangan baru dimana minat beli dan jual relatif berimbang.
Volatilitas yang ditunjukkan oleh Bollinger Band mulai menyempit dibandingkan fase awal reli. Penyempitan ini mencerminkan pasar sedang menunggu arah lanjutan setelah kenaikan yang cukup cepat. Lonjakan volatilitas ekstrem tidak terlihat, mengindikasikan penguatan BUMI berlangsung terkendali dan tidak bersifat spekulatif jangka sangat pendek. Namun, indikator momentum MACD menunjukkan pelemahan dorongan naik. Garis MACD dan sinyal bergerak mendatar dengan histogram yang menipis di area netral, menandakan momentum beli tidak lagi sekuat sebelumnya meskipun belum memberikan sinyal pembalikan tren yang tegas.
Di luar pergerakan harga dan optimisme pasar, pertanyaan mengemuka sejauh mana komitmen keberlanjutan BUMI telah benar-benar terbukti. Dalam Laporan Keberlanjutan 2024, BUMI menyoroti partisipasinya dalam forum internasional keenam Perserikatan Bangsa-Bangsa terkait Responsible Business and Human Rights (RBHR). BUMI berperan sebagai salah satu pembicara dalam panel diskusi bertajuk “Promoting Responsible Business Practices through Effective Remediation”. Perusahaan menyampaikan pengalaman yang diklaim telah dijalani dalam konteks uji tuntas hak asasi manusia, terutama mengenai mekanisme pengaduan yang disesuaikan dengan sektor pertambangan batu bara dan upaya remediasi terhadap komunitas terdampak, termasuk program pemukiman kembali masyarakat Dayak Basaf.
Forum tersebut dihadiri sekitar 50 peserta dari beragam latar belakang seperti Komnas HAM, ILO, Oxfam, dan pemangku kepentingan lainnya. Partisipasi ini memberi ruang dialog namun juga menempatkan BUMI pada tahap awal pembuktian komitmen keberlanjutan yang akan terus disorot publik, dengan belum adanya pengungkapan capaian kuantitatif jangka panjang terkait efektivitas mekanisme tersebut.
Pada aspek lain, BUMI menyoroti keamanan siber sebagai bagian agenda keberlanjutannya. Tahun 2024, perusahaan melaksanakan penilaian ketahanan siber bernama Cyber Resilience Maturity Assessment (CRMA) dengan melibatkan pihak ketiga independen ahli keamanan siber. Pengujian ini didasarkan pada kerangka National Institute of Standards and Technology (NIST), ditujukan untuk memetakan tingkat kematangan sistem keamanan siber perusahaan terhadap ancaman digital. Langkah ini memperlihatkan BUMI masih dalam fase pemetaan dan penguatan fondasi sistem, belum mencapai tahap pelaporan hasil akhir atau target maturitas tertentu.
Transformasi digital juga mendapat porsi besar dalam laporan tersebut. BUMI menempatkan digitalisasi sebagai pendukung efisiensi, daya saing, dan ketahanan bisnis dengan penerapan tata kelola teknologi berbasis COBIT 2019. Langkah konkret mencakup modernisasi infrastruktur IT, pembangunan pusat operasi IT 24 jam, pemantauan real-time operasional dan keselamatan kerja berbasis sensor serta kecerdasan buatan, peningkatan transparansi keuangan, dan migrasi ke platform berbasis cloud untuk sumber daya manusia. Meskipun menunjukkan arah transformasi, mayoritas langkah tersebut oleh BUMI sendiri dikatakan masih dalam tahap pengembangan sistem dan penguatan fondasi, belum evaluasi dampak jangka panjang. Kondisi ini menyoroti perbedaan antara euforia pasar terkait kenaikan saham dan ekspektasi masuk indeks dengan realitas proses keberlanjutan yang berjalan lebih lambat dan menuntut pembuktian berkelanjutan. (*)
Disclaimer: Informasi ini disusun berdasarkan keterbukaan berita dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

