Aktivitas bandar atau pemodal besar tercatat meningkat pada sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan akumulasi signifikan yang menunjukkan minat beli kuat di pasar. Data perdagangan Jumat, 12 Desember 2025, mengungkap tiga saham yang mulai dikoleksi secara intensif oleh bandar, memicu perhatian pelaku pasar.
📊 Daftar Saham yang Dikoleksi Bandar
Berikut tiga saham yang terpantau mengalami akumulasi bandar menurut data bandar value dari platform Stockbit pada Minggu, 14 Desember 2025:
1. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
Menjadi saham dengan bandar value tertinggi di antara daftar, mencapai Rp840,51 miliar, jauh di atas Moving Average 10 (MA10) sebesar Rp826,97 miliar. Saham ENRG juga menunjukkan penguatan harga, ditutup naik 8,11 persen ke Rp1.600 pada perdagangan Jumat lalu. Dalam sepekan, saham ini menguat 32,78 persen, dan secara year to date (YTD) melonjak drastis hingga 595,65 persen.
2. PT Mahkota Group Tbk (MGRO)
Saham sektor makanan dan minuman ini juga mengalami akumulasi bandar dengan bandar value mencapai Rp33,94 miliar, sedikit di atas MA10 yang tercatat Rp33,75 miliar. Meskipun pada perdagangan terakhir pekan lalu MGRO ditutup melemah 0,64 persen ke Rp775, saham ini masih menunjukkan penguatan 0,65 persen selama sepekan dan pertumbuhan 11,51 persen YTD.
3. PT Puri Sentul Permai Tbk (KDTN)
Saham ini turut mencatat bandar value positif sebesar Rp3,08 miliar, lebih tinggi dari MA10 di level Rp2,86 miliar. KDTN memanfaatkan momen penguatan pasar dengan kenaikan 9,73 persen ke Rp620 pekan lalu, serta lonjakan 58,97 persen dalam sepekan.
📈 Indikasi dan Dampak Akumulasi
Akumulasi oleh bandar sering diasosiasikan dengan masuknya modal besar yang bisa mendorong momentum harga suatu saham. Dalam kasus tiga saham di atas, investor institusional tampak aktif mengoleksi sebelum tren kenaikan lebih luas terjadi. Pergerakan harga yang naik signifikan di ENRG dan KDTN dalam sepekan menunjukkan potensi momentum lanjutan jika akumulasi terus berlangsung.
Meski begitu, pelaku pasar tetap diimbau berhati-hati. Akumulasi bandar tidak selalu menjamin tren naik berkelanjutan, terutama jika sentimen pasar atau kondisi makro berubah tajam. Investor dianjurkan untuk memadukan analisis teknikal dan fundamental sebelum mengambil keputusan investasi.

